{"id":9846,"date":"2025-12-11T11:01:04","date_gmt":"2025-12-11T04:01:04","guid":{"rendered":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/?p=9846"},"modified":"2025-12-18T15:02:32","modified_gmt":"2025-12-18T08:02:32","slug":"menjaga-bumi-sebagai-amanah-aksi-ekoteologi-kemenag-kabupaten-semarang-dari-merbabu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/?p=9846","title":{"rendered":"Menjaga Bumi sebagai Amanah: Aksi Ekoteologi Kemenag Kabupaten Semarang dari Merbabu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Kabut tipis menggantung di lereng Merbabu ketika ratusan siswa-siswi madrasah beserta ASN Kementerian Agama Kabupaten Semarang memasuki kawasan Spekta Merbabu pada Rabu pagi, 10 Desember 2026. Udara dingin yang bercampur aroma tanah basah itu seperti memberi pesan diam bahwa hutan pegunungan selalu punya cara mengingatkan manusia untuk tidak melupakan bumi. Namun kali ini, manusia datang bukan dengan niat menguasai, melainkan belajar tentang alam, agama, dan tanggung jawab spiritual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di bawah naungan puncak Merbabu yang membiru, ekoteologi \u2013sebuah gagasan yang kerap hidup dalam ruang seminar\u2013 akhirnya turun menyentuh tanah. Ia menjelma aksi nyata. Ia berubah dari wacana menjadi gerakan.<\/span><\/p>\n<p><b>Bukan Sekadar Tanam Pohon<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kegiatan bertajuk \u201cEkoteologi dalam Aksi: Menanam, Merawat, dan Menghidupkan Bumi\u201d yang diinisiasi Kemenag Kabupaten Semarang ini bukan sekadar rangkaian peringatan Hari Amal Bakti ke-80. Puluhan bibit pohon endemik Merbabu, cangkul yang berderet, dan wajah para peserta yang berembun oleh udara pagi adalah simbol dari tekad yang lebih dalam: meneguhkan kembali iman ekologis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cAlam bukan objek untuk dieksploitasi,\u201d tegas Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Semarang, Ta\u2019yinul Biri Bagus Nugroho. \u201cMenjaga bumi adalah ibadah. Alam adalah ayat-ayat Tuhan yang harus dijaga dan dimuliakan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kata-kata itu sederhana tetapi mengandung arah moral yang kuat, bahwa spiritualitas menemukan wujud nyatanya bukan hanya dalam ritual, tetapi juga dalam tindakan merawat bumi.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketika Moderasi Beragama Bertemu Moderasi Ekologis<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dalam sambutan Wakil Bupati Semarang Dra. Hj. Nur Arifah yang dibacakan Kabag Kesra H. Asep Mulyana, S.STP. M.M., pemerintah daerah menyampaikan apresiasi kepada Kemenag Kabupaten Semarang atas inisiatif yang berhasil memadukan nilai keagamaan dengan kepedulian ekologis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cKemenag telah menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan alam sebagai karunia Ilahi yang wajib dijaga,\u201d lanjutnya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_9870\" aria-describedby=\"caption-attachment-9870\" style=\"width: 3936px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-9870\" src=\"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Edited-03244.jpg\" alt=\"Kabag Kesra Setda Kabupaten Semarang, H. Asep Mulyana, S.STP., M.M., membacakan sambutan tertulis Wakil Bupati Semarang Dra. Hj. Nur Arifah, Rabu (10\/12\/2025). (Foto: Kresna\/Humas)\" width=\"3936\" height=\"2216\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9870\" class=\"wp-caption-text\">Kabag Kesra Setda Kabupaten Semarang, H. Asep Mulyana, S.STP., M.M., membacakan sambutan tertulis Wakil Bupati Semarang Dra. Hj. Nur Arifah, Rabu (10\/12\/2025). (Foto: Kresna\/Humas)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ini adalah perspektif penting, bahwa keberagamaan bukan hanya mengenai toleransi sosial, tetapi juga tanggung jawab ekologis. Bahwa iman tidak hanya diuji dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam bagaimana kita memperlakukan bumi.<\/span><\/p>\n<p><b>Merawat Bumi, Merawat Warisan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tak jauh dari tempat apel dilaksanakan, tim Balai Taman Nasional Gunung Merbabu telah menyiapkan bibit-bibit pohon endemik yang akan ditanam dan dirawat. Kepala Balai, Dr. Anggit Haryoso, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa penanaman ini bukan seremonial tahunan, melainkan bagian dari pemulihan ekosistem yang membutuhkan kesabaran panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cPenanaman tahun lalu adalah penanaman bersama,\u201d ujarnya. \u201cTahun ini adalah tahun pertama pemeliharaan. Semoga tahun berikutnya kita bisa melanjutkan pemeliharaan tahun kedua.\u201d<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_9869\" aria-describedby=\"caption-attachment-9869\" style=\"width: 3936px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-9869\" src=\"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Edited-03238.jpg\" alt=\"Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, Dr. Anggit Haryoso, S.Hut., M.Sc., menjelaskan teknis penanaman dan pemeliharaan pohon di Kawasan Gunung Merbabu kepada peserta kegiatan, Rabu (10\/12\/2025). (Foto: Kresna\/Humas)\" width=\"3936\" height=\"2216\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9869\" class=\"wp-caption-text\">Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, Dr. Anggit Haryoso, S.Hut., M.Sc., menjelaskan teknis penanaman dan pemeliharaan pohon di Kawasan Gunung Merbabu kepada peserta kegiatan, Rabu (10\/12\/2025). (Foto: Kresna\/Humas)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Setiap peserta kemudian turut meninjau kembali pohon-pohon yang ditanam pada HAB tahun sebelumnya. Sebagian tumbuh subur, sebagian lain mati dan harus diganti. Di titik inilah para peserta memahami bahwa karya ekologis tidak pernah selesai hanya dengan upacara tanam. Merawat bumi adalah perjalanan panjang berkesinambungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Usai penanaman, puluhan burung kemudian dilepasliarkan ke alam sebagai simbol mengembalikan keseimbangan ekologis. Syair shalawat yang dilantunkan peserta menjadi pengiring spiritual bagi sayap-sayap kecil yang terbang menuju kebebasannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di sisi lain kawasan, rombongan lain mulai bergerak menyusuri aliran sungai di sekitar area penanaman. Mereka membawa karung sampah, penjepit, dan sarung tangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Setiap sampah yang terambil, setiap plastik yang diangkat dari aliran air, terasa seperti pengakuan dosa dan sekaligus pengampunan ekologis. Membersihkan sungai, dalam tradisi Islam, bukan sekadar etika sanitasi; ia adalah wujud iman.<\/span><\/p>\n<p><b>Ekoteologi: Ketika Ajaran Agama Menyentuh Tanah<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kegiatan diakhiri dengan sesi refleksi ekoteologi. Sebuah sesi kontemplatif yang tak biasa digelar dalam program kantor pemerintahan. Namun siang itu, para peserta duduk melingkar sambil memandang bukit-bukit hijau, seakan alam sedang mengajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cKonsep ekoteologi yang digagas Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar bukan sekadar jargon,\u201d ujar Mas Kakan, sapaan akrab Kepala Kankemenag Kabupaten Semarang. \u201cKonsep ini berangkat dari lima prinsip utama: tauhid, khalifah, amanah, \u2018adl, dan mizan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Mas Kakan mengutip ayat QS. Ar-Rum: 41 yang menggema kuat dalam situasi krisis iklim hari ini:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: right\"><span style=\"font-weight: 500\">\u0638\u064e\u0647\u064e\u0631\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u0633\u064e\u0627\u062f\u064f \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0631\u0650\u0651 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u062d\u0652\u0631\u0650 \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0633\u064e\u0628\u064e\u062a\u0652 \u0623\u064e\u064a\u0652\u062f\u0650\u064a \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0627\u0633\u0650\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Artinya: \u201cTelah tampak kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sementara Kepala KUA Kecamatan Pabelan, Abdul Ghofur, S.H.I., menambahkan perspektif yang sederhana tetapi menyentuh akar ajaran Islam:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cMenanam pohon adalah sedekah. Menjaga sungai adalah ibadah. Mengurangi sampah adalah bagian dari ihsan kepada seluruh makhluk.\u201d<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_9878\" aria-describedby=\"caption-attachment-9878\" style=\"width: 3936px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-9878\" src=\"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Edited-03428.jpg\" alt=\"Kepala KUA Kecamatan Pabelan, Abdul Ghofur, S.H.I., saat menyampaikan perspektifnya saat sesi refleksi ekoteologi, Rabu (10\/12\/2025). (Foto: Kresna\/Humas)\" width=\"3936\" height=\"2216\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9878\" class=\"wp-caption-text\">Kepala KUA Kecamatan Pabelan, Abdul Ghofur, S.H.I., saat menyampaikan perspektifnya saat sesi refleksi ekoteologi, Rabu (10\/12\/2025). (Foto: Kresna\/Humas)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kata-kata itu sederhana, namun berakar pada tradisi panjang Islam: al-ihsan, tathahhur, amanah, dan khalifah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Rasulullah SAW bersabda:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: right\"><span style=\"font-weight: 500\">\u0645\u064e\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u064d \u064a\u064e\u063a\u0652\u0631\u0650\u0633\u064f \u063a\u064e\u0631\u0652\u0633\u064b\u0627&#8230; \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0635\u064e\u062f\u064e\u0642\u064e\u0629\u064c<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0\u201cTidaklah seorang Muslim menanam pohon, kecuali menjadi sedekah baginya&#8230;\u201d (HR. Bukhari)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Refleksi ini mengingatkan seluruh peserta bahwa ekoteologi adalah cara mengembalikan keseimbangan spiritual manusia dengan alam. Bahwa menjaga bumi bukan isu teknis, tetapi bagian dari kesalehan ekologis.<\/span><\/p>\n<p><b>Dari Merbabu untuk Indonesia<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ketika acara usai, hamparan Merbabu tetap sama: hijau, dingin, dan tenang. Namun para peserta pulang membawa sesuatu yang berbeda. Sebuah kesadaran baru, yang mungkin selama ini terlupakan: bahwa bumi bukan sekadar tempat untuk ditinggali, tetapi amanah untuk dijaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di tengah krisis iklim yang terus memburuk, langkah-langkah kecil seperti menanam pohon, merawat kembali tanaman lama, membersihkan sungai, dan melepas satwa liar memiliki makna besar. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ekoteologi dalam aksi yang digelar Kemenag Kabupaten Semarang bukan sekadar kegiatan seremonial; ia adalah manifestasi spiritualitas yang konkret, yang menghadirkan nilai ilahi dalam tindakan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dan pagi di Merbabu itu membuktikan satu hal: ketika manusia berhenti sejenak untuk mendengarkan suara alam sekitarnya, di situlah ia kembali menemukan Tuhannya.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_9871\" aria-describedby=\"caption-attachment-9871\" style=\"width: 3936px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-9871\" src=\"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Edited-03255.jpg\" alt=\"Prosesi pelepasliaran burung ke alam oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, Kabag Kesra Setda Kabupaten Semarang, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, jajaran Forkopimcam Kecamatan Getasan, Rabu (10\/112\/2025). (Foto: Kresna\/Humas)\" width=\"3936\" height=\"2216\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9871\" class=\"wp-caption-text\">Prosesi pelepasliaran burung ke alam oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, Kabag Kesra Setda Kabupaten Semarang, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, jajaran Forkopimcam Kecamatan Getasan, Rabu (10\/112\/2025). (Foto: Kresna\/Humas)<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penulis: Arief Rahman Hakim<br \/>\nFotografer: Kresna Raditya Agung<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kabut tipis menggantung di lereng Merbabu ketika ratusan siswa-siswi madrasah beserta ASN Kementerian Agama Kabupaten Semarang memasuki kawasan Spekta Merbabu pada Rabu pagi, 10 Desember 2026. Udara dingin yang bercampur aroma tanah basah itu seperti memberi pesan diam bahwa hutan pegunungan selalu punya cara mengingatkan manusia untuk tidak melupakan bumi. Namun kali ini, manusia datang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9874,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1472,33,1575],"tags":[1574,1576,406,1570,1577],"class_list":["post-9846","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-berita","category-ekoteologi","tag-bagus","tag-ekoteologi","tag-kemenag","tag-kemenagkabsemarang","tag-merbabu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9846","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9846"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9846\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9880,"href":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9846\/revisions\/9880"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/9874"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9846"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9846"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/semarang.kemenag.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9846"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}